Balikpapan – Bekal agama merupakan dasar utama bagi setiap muslim dalam menjalani hidupnya. Tanpa agama manusia ini ibarat orang hidup tapi tidak memiliki ruh. Namun kondisi jaman sekarang cukup mengubah pola pikir masyarakat terhadap agama. Bahkan termasuk di kalangan muslim sendiri. Disinilah tantangan dimulai. Institusi pendidikan seperti pesantren harus mampu menjadi salah satu penjaga dan pelestari nilai agama melalui santri yang menuntut ilmu di dalamnya.

Pimpinan pesantren al Mujahidin, KH. Mas’ud Asyhadi, Lc. mengatakan tantangan muslim hari ini bukan hanya persoalan dari luar. Tapi juga di dalam tubuh umat Islam sendiri. Terutama mengenai pemahaman mereka terhadap agamanya sendiri. Secara jelas al Qur’an mengingatkan bahwa agama ini adalah nikmat yang sudah sempurna dari Allah ta’ala.

“Yang perlu saya garis bawahi agama itu nikmat yang diberikan Allah. Agar manusia dapat ketentraman dan ketenangan di kehidupan dunia dan akhirat. Orang yang tidak punya iman dalam hidup justru cenderung akan tergoncang hatinya,” ujarnya dalam talkshow podcast al Mujahidin, beberapa waktu lalu.

Namun yang terjadi, lanjut beliau, orang muslim justru asing terhadap ajaran agamanya. Meski memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang mencantumkan Islam dalam kolom agamanya. Salah satunya dalam persoalan bunuh diri. Karena banyak juga pemeluk Islam yang tidak tahan terhadap cobaan lalu memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya.

“Saya baca di koran. Di Jepang ada status darurat bunuh diri. Jadi di sana orang bunuh diri tambah banyak mulai yang muda sampai tua. Itu suatu bentuk karena tidak beriman kepada hari akhir. Ketika dia tidak dapat mengatasi persoalan hidupnya maka memilih bunuh diri,” tuturnya lagi.

Menurut KH Mas’ud Asyhadi, Lc. institusi pendidikan semacam pesantren memiliki peran penting dalam mengawal pola pikir ini. Mengingat para santri merupakan kader pelanjut Islam di tempat asal mereka masing-masing. Jika tanpa dasar agama yang kuat tentu mereka akan kesulitan menghadapi persoalan di kehidupan nyata. Mungkin tidak sampai bunuh diri tapi menjauh dari ajaran agama juga mendekati hal itu.

“Ada anak muda nilai sekolahnya tidak bagus. Dianggap gagal lalu bunuh diri. Ada yang melamar kerja tapi tidak diterima. Merasa tidak ada artinya hidup lalu bunuh diri. Itu karena mereka menganggap hidup ini hanya materi. Kalau tidak dapat artinya gagal menurut mereka,” jelasnya.

Beliau menambahkan Islam merupakan agama yang tidak hanya terbatas pada kegiatan ibadah di masjid. Ajaran Islam juga menyentuh berbagai sisi kehidupan secara seimbang. Seorang muslim tidak harus kaya. Tapi tidak terlarang juga menjadi orang kaya. Namun orang muslim yang paham agama tidak akan menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidupnya semata.

“Orang yang hidup tanpa agama. Tidak percaya ada hidup setelah mati. Maka ukuran hidupnya hanya materi saja. Makanya Islam mengajarkan syariat sebagai pondasi menjalani hidup. Kalau ia kuat agamanya dia pasti bersandar pada Allah seberat apa pun masalahnya,” tambahnya. (*/man)

Leave a Reply

Your email address will not be published.