Balikpapan – Dakwah merupakan salah satu kewajiban setiap muslim selama hidupnya. Di mana masing-masing pemeluk Islam wajib menjalankan amanah dakwah ini. Namun perlu dipahami bahwa dakwah bukan berarti harus jadi ustadz yang berhadapan dengan kumpulan jamaah. Sebab ada banyak ladang dakwah yang belum tergarap dan memerlukan kader untuk mewujudkannya.

Menyikapi hal tersebut, pesantren sebagai pusat pengkaderan bagi generasi pelanjut dakwah Islam harus menyambut tantangan ini. Para santri yang menyelesaikan pendidikan di pesantren diharapkan punya ilmu dan bisa mengamalkan ilmunya. Termasuk membuka lapangan dakwah sesuai bidang pekerjaan yang digelutinya ketika dewasa.

Ketua Majelis Pembimbing Santri (MPS) putri pesantren al Mujahidin, Ustazah Hayyun Nurdiniyyah mengatakan langkah pertama dalam pendidikan kita tentu haruslah ilmu agama. Kemanapun para santri nanti berkiprah maka dia harus punya ilmu agama sebagai pegangan hidupnya. Jadi mereka punya dasar pondasi yang kuat saat berdakwah. Siapa pun santri kita yang mungkin jadi dokter, teknisi, atau apa saja semua bermuara sebagai pendakwah.

“Dakwah itu kan artinya menyeru. Itu adalah perintah Allah kepada nabi Muhammad. Otomatis kepada umatnya juga. Ya termasuk kita ini. Maka saya melihat kita harus punya ilmu agar mampu mengemban tugas menyeru itu. Bukan sekedar pintar bicara atau semangat,” ujarnya dalam podcast al Mujahidin.

Ustazah asal Provinsi Lampung ini mengisahkan, bahwa dirinya terus berupaya memotivasi para santri agar berdakwah saat di dalam maupun di luar pesantren. Karena ada banyak manfaat yang bisa didapat. Bukan hanya pahala secara pribadi. Tapi pahala jariyah ketika orang lain menerima dan mengamalkan dakwah yang sudah disampaikan. Apalagi pahala jelas merupakan bekal menghadap Allah Ta’ala.

“Saya sendiri memulai dakwah harus ada bekal ilmu. Makanya begitu saya belajar hadist di pondok pada 1985 saya termotivasi dengan satu hadist. Ketika kelas 1 SMP saya dengar hadist tentang siapa yang menunjukkan kebaikan ke orang lain maka dia mendapatkan pahala dari orang yang mengamalkannya,” tuturnya lagi.

Menurut wanita yang akrab disapa Hayyun ini, dakwah sama saja dengan buah bagi sebuah pohon. Seperti kata mutiara yang menyebutkan kalau ilmu tidak diamalkan sama saja pohon tak berbuah. Artinya ilmu itu bisa sia-sia kalau tanpa amal. Mengingat dakwah merupakan tindak lanjut dari ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan di pesantren al Mujahidin. Maka setiap santri wajib bersungguh-sungguh memanfaatkan waktunya mendapatkan ilmu dan cara mempraktekkannya dari para ustadz dan ustazah yang ada.

“Sungguh rugi sekali kalau santri dapat ilmu tapi tidak beramal. Apalagi kalau selama jadi santri malah tidak dapat ilmu. Punya waktu tapi banyak terbuang sia-sia saat di pondok. Pulang dari pondok pas liburan malah tidak ada bekal. Untuk ibadah pribadi atau yang diajarkan ke orang lain,” tambahnya. (*/man)

Leave a Reply

Your email address will not be published.