Balikpapan – Pondok pesantren bukan hanya sebagai tempat memperoleh ilmu. Tapi juga menjadi kesempatan menempa diri agar semakin mandiri seiring pertambahan usia. Bahkan para santri juga berkesempatan mempraktekkan ilmunya dalam aktivitas di pesantren. Seperti hari berbahasa, muhadaroh, lomba kreatif dan kuliah tujuh menit (kultum).

Pengasuh asrama putri pesantren al Mujahidin, Hayyun Nurdiniyah mengatakan kehidupan di pondok tentu berbeda dengan siswa di sekolah umum. Santri yang belajar di pondok semua diperlakukan sama dan harus bisa mengatur waktu dalam mengikuti aktivitas harian. Hal ini membuat mereka menjadi lebih mandiri dan terbangun kesadarannya terhadap kewajiban sebagai muslim.

“Saya datang ke pondok ini sekitar tahun 1991. Sama pimpinan pondok, almarhum pak Rusdiman, diminta mengajar disini. Ketika itu masyaAllah tentunya keadaan pondok kita belum seperti ini. Masih sangat prihatin. Tapi bapak pimpinan ketika itu malah juga menyuruh saya mengisi pengajian ibu-ibu,” ujarnya.

Hal yang berkesan, lanjut Hayyun, saat dirinya mendapat tugas mengisi amteri pengajian ibu-ibu dari pimpinan pondok pesantren al Mujahidin. Tugas itu menjadi kesempatan bagi dirinya mempraktekkan ilmu yang didapat selama di pesantren dahulu. Apalagi sejak menjadi santri dirinya sudah berniat mengamalkan ilmu yang didapat dan mengajak orang memahami Islam.

“Biasanya kalau waktu di pondok saya kan ceramahnya di depan teman-teman. Mau nggak mau kan kita harus menghafal materi dengan baik. Soalnya yang kita hadapi ibu-ibu. Bahkan pernah saya ngisi kultum tarawih di masjid besar. Jadi jamaahnya ada bapak-bapak, ibu-ibu sama masyarakat sekitar,” tuturnya lagi.

Untuk itu, menurut Hayyun, hal pertama yang harus dilakukan para santri dalam mengamalkan ilmu tentu persiapan. Mulai dari isi materi, teknik penyampaian hingga mencegah grogi saat berhadapan dengan jamaah pengajian. Kondisi itu juga membuat dirinya tertantang terus menambah stok ilmu yang berkaitan dengan dakwah.

“Saya sama bu Rowiyah kalau dapat tugas mengisi pengajian selalu persiapan dulu. Lumayan juga menghafal isi materi yang mau disampaikan. Saat itu mulai saya lagi tertantang. Rupanya kalau mau dakwah itu nggak gampang. Harus punya ilmu. Makanya setelah mengabdi setahun saya lanjut kuliah jurusan dakwah,” tambahnya. (FAD)

Leave a Reply

Your email address will not be published.