Tuesday, September 25, 2018

Trauma Akibat Gempa di Dusun Karia mulai mereda

Wednesday, 12 September 2018 08:00

 Tim Psikososial Relawan Muhammadiyah Kaltim saat Berbincang dengan salahsatu warga

Dusun Karia, Lombok Timur - Sore hari yang lalu (11/9/2018), Relawan Muhammadiyah Kalimantan Timur melakukan perbincangan ringan dengan beberapa warga di Dusun Karia, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun terkait dampak gempa yang terjadi selama kurang lebih 2 bulan terakhir. Beberapa warga mengatakan bahwa, bencana tersebut sangat berpengaruh terhadap perubahan aspek kehidupan dusun karia, yakni mencakup aspek psikis, sosial pendidikan dan ekonomi.

 

Dzati Yumni Syafwati, S. Psi selaku penanggung jawab Divisi Psikososial menjelaskan hasil perbincangannya bersama tim dengan masyarakat terkait dampak Gempa tersebut Pertama, bencana yang menimbulkan traumatis yang mendalam pada masyarakat, yakni gejala kecemasan yang di timbulkan seperti tidak tenang saat tidur di malam hari mulai mereda. Karena gempa susulan sering terjadi, sehingga membuat masyarakat mulai terbiasa. Ditambah lagi dengan adanya Program Psikososial dari Relawan MDMC, anak-anak sudah kembali riang dan bersemangat dalam bermain maupun belajar. Kedua, gempa bumi mengakibatkan runtuhnya berbagai bangunan fisik termasuk fasilitas pendidikan di daerah setempat. Gedung-gedung sekolah tak lagi memungkinkan untuk digunakan, sehingga media belajar mengajar harus dialihkan dalam sekolah darurat . selain itu, minimnya tenaga pengajar dan guru tidak hadir setiap hari sesuai jam kerja dan fasilitas yang kurang memadai pada sekolah darurat. Hal ini akhirnya mendorong para relawan untuk ikut serta aktif membantu mengajar dengan Program Sekolah Ceria. Ketiga, beberapa warga menyatakan dampak ekonomi dari gempa bumi adalah melumpuhkan salah satu sektor pertanian, juga Perdagangan. Pak Masayu salahsatunya, Pak masayu merupakan pedagang Bakso yang ternama di lendang Luar yang sudah memulai menjual bakso pada tahun 92 an.

“Semenjak Gempa Penjualan Bakso kamipun juga ikut menurun, yang biasanya per hari 15 sampai 20 kg daging, sekang hanya 4 sampai 5 kg saja. Toko-toko lainnya juga begitu mas, apalagi kalau malam hari banyak toko dan warung pada tutup, padahal biasanya buka.” Jelas beliau.

Beberapa penduduk juga menyampaikan bahwa untuk saat ini, kebutuhan yang penting yang harus didahulukan adalah memenuhi kebutuhan rohani, seperti dzikir rutin setiap setelah magrib dan tenaga pengajar TPA untuk mengaji atau juga bisa diadakan kajian-kajian islam agar masyarakat bisa mendapatkan pencerahan juga ketenangan hati. Kemudian yang tidak kalah penting juga adalah masalah air, toilet umum dan huntara untuk warga lansia juga warga yang memiliki anak bayi kecil.

“saat itu saya lagi nonton terus pas terjadi gempa saya teriak lari keluar, saya nangis ketakutan. Saya gak berani masuk sekolah karena takut gempa. Kira-kita satu bulan lebih kami tidak masuk sekolah. Sekolah kami juga runtuh. nah semenjak relawan MDMC ada, mereka yang selalu memberi motivasi, ngajak main, ngajak belajar, dan kami semua merasa senang dan kami juga sudah terbiasa dengan gempa susulan.” tutur Nensi anak berumur 9 tahun Kelas 4 SDI Karia saat bercerita tentang kejadian.

“kalau saya sih nggak mau lagi ada gempa, karena banyak rumah yang hancur. Kami juga tidak bisa belajar ke sekolah dengan baik seperti biasanya. Saat ini saya sudah mulai terbiasa kalau ada gempa.” Tambah Nita anak berumur 9 tahun kelas 4 SDI Karia.

“Sampai saat ini masih sering terjadi gempa susulan. Kadang subuh, kadang juga pagi tapi kecil, kadang juga sore dan malam. Karena kami sudah terbiasa, jadi tidak takut lagi” kata Rendi Martino Pradana anak berumur 12 tahun kelas 6 SDI Karia.

Published in Berita

Rekening Pondok Al-Mujahidin

REK BRI No 0121-01-008053-50-6

an CHOSYI SOEN

Pengunjung

452568
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Bulan ini
Semua
152
468
1080
9581
452568

Online (15 minutes ago):21
21 guests

Your IP:54.198.142.121

Alamat

Jl. Soekarno Hatta Km 10 Balikpapan

Email : mujahidin_bpp@yahoo.com

Social Media

           

Шаблоны Joomla 2015